Sumba, salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyimpan banyak keunikan...
Pulau dengan padang sabana yang juga dijuluki pulau Sandelwood ini terkenal dengan kampung adat/ kampung tradisional yang masih terjaga sampai saat ini.
Dan biasanya di dalam kampung terdapat batuan megalitik berupa dolmen dan menhir yang merupakan kubur batu dan tempat melakukan ritual adat yang sampai saat ini masih digunakan sejak berabad-abad yang lalu.. karena itu di kalangan para antropolog.. pulau Sumba dikenal sebagai situs "the living megalith tradition"..
Dalam liburan lebaran yang lalu, saya sempatkan untuk mengunjungi salah satu kampung tradisional Sumba yaitu Kampung PRAI IJING. Kampung Prai Ijing terletak di Desa Tebara Kecamatan Kota Waikabubak, hanya 3 km ke arah timur dari pusat ibukota Kabupaten.
Kampung Prai Ijing
Kampungini terletak di atas sebuah bukit kecil. Dari bagian yang lebih tinggi dari kampung ini kita bisa melihat keseluruhan kampung yang terhampar di bagian bawahnya, amat mempesona tentunya. Kampung tradisional yang masih asli dengan pemandangan yang sangat cantik. Rumah-rumah di kampung ini terlihat sangat unik, berupa rumah panggung dan umumnya beratap menjulang tinggi. Rumah terbuat dari bahan alam seperti rumput/alang-alang, bambu dan kayu. Di kampung ini terdapat 48 rumah dan masing-masing rumah dihuni oleh 1-3 kepala keluarga atau 3 sampai belasan orang di setiap rumahnya.
Kampung Prai Ijing
Saya sempat ngobrol dengan bapak Tinus Bora Dualu, warga kampung Prai Ijing. Menurut pak Tinus, warga kampung ini sebagian besar masih tetap bertahan dengan kepercayaan lokal mereka yaitu MARAPU, Masyarakat Sumba yang masih menganut kepercayaanMerapu atau “ajaran para leluhur” senantiasa melakukan upacara dan perayaan ritual untuk mengiringi berbagai sendi kehidupan mereka. Kepercayaan ini dilambangkan dengan ritual/perayaan upacara, dan pengorbanan untuk penghormatan kepada Sang Pencipta juga arwah para leluhur mereka.Merapu dalam bahasa Sumba berarti “Yang dipertuan atau dimuliakan” terutama untuk menyebut arwah-arwah para leluhur mereka.Dan karena roh para leluhur diyakini menjalani kehidupan baru di tempat yang dekat dengan “Sang Pencipta”, maka roh-roh inilah yang menjadi perantara mereka. Walaupun sering memuja dan memohon kepada Marapu (arwah leluhur) tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Sang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur saja, tetapi kepada “La Mawolo La Marawi” (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa.
Namun demikian, ada beberapa warga kampung yang sudah menganut salah satu Agama tetapi dalam keseharian masih turut berkontribusi dalam kegiatan ritual adat mereka.
Umumnya warga di kampung ini bermata pencaharian sebagai petani. Beberapa warga kampung juga sudah ada yang bersekolah tinggi dan tinggal di luar pulau dan juga bekerja sebagai PNS ataupun swasta dan profesi lainnya. Tetapi umumnya mereka yang sudah menganut agama dan bekerja sebagai PNS/swasta akan tinggal di luar kampung.
Kampung Prai Ijing
Warga kampung umumnya bertani menanam padi di sawah, jagung, dan menanam umbi-umbian. Mereka juga memelihara ternak kuda, kerbau, babi, dan ayam. Aktifitas sehari-hari kaum wanita Prai Ijing adalah mengasuh anak, mengurus pekerjaan rumah tangga seperti menumbuk padi dan memasak serta menenun kain.
Membersihkan padi yang baru ditumbuk menjadi beras untuk dimasak
Menenun kain, salah satu aktifitas wanita Prai Ijing
Bagi teman2 yang ingin berkunjung ke kampung Prai Ijing disarankan pagi hari saat warga kampung masih belum banyak yang ke kebun atau sore hari saat warga kampung sudah kembali ke kampung. Atau jika punya waktu banyak sempatkan untuk menginap di kampung ini sehingga dapat menyaksikan dan menyelami aktifitas keseharian warga kampung Prai Ijing.
Untuk menuju ke tempat ini, tidaklah sulit.....jika starting point dr Bali, ada penerbangan setiap hari dari Denpasar ke Tambolaka, lalu dengan jalan darat menggunakan angkutan umum (Rp 20,000) atau mobil travel (Rp 50.000) atau menggunakan ojek sepeda motor dengan tarif “nego”.. menuju ke Waikabubak, ibukota Kabupaten Sumba Barat dengan kondisi jalan bagus (aspal/hotmix). Kampung ini terletak di bagian timur, di pinggir kota Waikabubak.
Ok, Selamat berkunjung ke Kampung Prai Ijing......
Pulau Sumba di Provinsi NTT layak untuk menjadi salah satu destinasi wisata yang patut untuk
dikunjungi..
Sumba menyimpan begitu banyak tempat unik dan eksotis... Salah satunya adalah objek wisata WAIKELO SAWAH.
Gua Waikelo Sawah merupakan sumber
keluarnya air tawar dari sungai bawah tanah. Airnya mengalir ke kolam kecil di mulut gua, kemudian
mengalir membentuk air terjun dan dibendung untuk keperluan irigasi serta
pembangkit listrik. Gua tersebut dihiasi stalagtit yang indah. Pada bagian
dalam gua di bagian atasnya terdapat
lubang yang terhubung ke luar bukit sehingga matahari dapat memasuki gua dan
memberikan pantulan cahaya indah dalam gua.
Gua Waikelo Sawah...dengan pemandangan yang indah
Sekitar lokasi Waikelo Sawah memiliki
udara yang sejuk dan pemandangan alam dan persawahan yang indah. Obyek wisata ini
dikelilingi dengan hutan di sekitar gua.
Anda dapat melakukan kegiatan mandi dan berenang di lokasi ini.
Waikelo Sawah merupakan tempat reksreasi yang cukup menyenangkan.. kita bisa mandi di air pegunungan yang bersih, sejuk dna segar..
Airnya terus
mengalir baik di musim hujan maupun musim kemarau walaupun di saat musim kemarau
debitnya agak berkurang namun tetap mampu mengairi sawah ribuan hektar di
bawahnya..
Air dr Gua Waikelo Sawah dimanfaatkan untuk irigasi, mangairi ribuan hektar sawah
Waikelo Sawah terletak sekitar 33 Km dari Tambolaka Ibu kota Kabupaten Sumba
Barat Daya, NTT; dengan kondisi jalan beraspal dan terpelihara.
Untuk menjangkau tempat ini, bila
starting point anda dari Denpasar, penerbangan langsung ke bandara Tambolaka
dan dari Tambolaka dapat menggunakan angkutan umum berupa Mini Bus, Ojek sepeda
motor, atau menggunakan travel langsung dari kota Tambolaka.
Sumba island has a great and unique position respect to the Sunda Banda archipelagoes, it is one of the biggest island on the East Nusa Tenggara region beside Flores and Timor. It represents an isolated sliver of probable continental crust to the south of active volcanic islands (Sumbawa, Flores ) within the forearc basin It is situated to the north of passage from the Java Trench (subduction front) to the Timor Through (collision front). It does not show still the effects of strong compression in contrast to islands of the outer arc system (Savu, Roti, Timor), while the magmatic units make up a substantial part of the Late Cretaceous to Paleogene stratigraphy.
Sumba island covers an area of 11,150 square km which is now populated by about 350,000 people. Generally the climate similar to other part of Indonesia where a dry season (May to November), and a rainy season (December to April). The island of Sumba is well known of its sandlewood, horses, impressive megalithic tombs, typical hand woven textile ("ikat"), and still untouched beautiful beaches. There are two entering point in to Sumba island from anywhere in the Lesser Waingapu & Waikabubak (Tambolaka). These are the people could enter Sumba for either by flight or boat.
Sumba has a unique culture and their social life. Sumbanese are traditionally divided into three level of social life : (Raja/King) - Maramba, Customary Official - Kabihu, and Slaves - Ata. Sumbanese are living from farming, cattle breeding, rice-field farming and trading. Ones owns cattle will contribute to their social status such as if they had more cattle giving them a higher social status.
Most Sumbanese are Christian, however, and part of them are still strongly keep their native and original religion called Marapu. Most cultural objects are related to the Marapu religion such as the shape of traditional houses, ceremonies, or kings' graves and tombs.
The Customary houses designed in high-peaked roof to store the heirlooms and store. It is divided into male and female section, and generally surrounded by impressive megalithic tombs. Their famous ceremony are the wedding and funerals. where they usually sacrificed animals pigs, buffaloes, cattle, and horses.
The Megalithic tombs are made from the hard stone forming the megalithic shape. This covered by rectangle flat stone supported by four pillars about 1,5 meters high. The Megalithic tombs are actually located in the front of their houses
A primitive Sumbanese art objects strongly related with a social functions of Merapu belief. The carved stones and wood statues are representing the death, Merapu, and as medium for their contact. Metal ornaments and jewelry are usually for wedding ceremonies, and are related to the social status
Bathymetrically, Sumba stands out as a ridge that separates the Savu forearc basin (> 3000 m depth) in the east and the Lombok forearc basin (> 4000 m depth) in the west. Seismic refraction studies show (Barber et al., 1981) that it is made up of 24 km thick continental crust (Chamalaun et al., 1981). Based on the results of tectonic studies helped by paleomagnetism and geochemistry, several workers considered Sumba as a microcontinent or a continental fragment (Hamilton, 1979 ; Chamalaun and Sunata, 1982 ; Wensink, 1994, 1997 ; Vroon et al., 1996 ; Soeria-Atmadja et al., 1998 ).
Three main geodynamic models for Sumba have been reviewed by Chamalaun et al. (1982) and Wensink (1994) as follows : (i) Sumba was originally a part of the Australian Continent which was detached afterwards when the Wharton basin was formed, drifted northwards and subsequently trapped behind the eastern Java Trench (Audley-Charles, 1975 ; Otofuji et al., 1981), (ii) Sumba was once part of Sundaland which was drifted southwards during the opening of the Flores Basin (Hamilton,1979, Von der Borch et al., 1983 ; Rangin et al., 1990) and (iii) Sumba was either a microcontinent or part of a larger continent within the Tethys, which later was fragmented (Chamalaun and Sunata, 1982).
Three distinct calc-alkaline magmatic episodes have been recorded during Cretaceous - Paleogene, all of them characterized by nearly similar rock assemblages (i.e pyroclastic rocks, basaltic - andesitic lava flows and granodioritic intrusions). They are respectively (i) the Santonian - Campanian episode (86-77 Ma) represented by volcanic and plutonic rock exposures in the Masu Complex from Eastern Sumba, (ii) the Maastrichtian-Thanetian episode (71-56 Ma) represented by the volcanic and plutonic units of Sendikari Bay, Tengairi Bay and the Tanadaro Complex in Central Sumba and finally (iii) the Lutetian - Rupelian episode (42-31 Ma) of which the products are exposed at Lamboya and Jawila in western part of Sumba. No evidence of Neogene magmatic activity has been recorded so far.
Pasola is, above all, the most exciting ritual of Sumba-where else in the world can you see colorful horsemen trying to kill each other? Where else in the world can you see the shedding of blood, the lost of and eye, and occasional death coloring the event and being the part of the game?. The ceremony occurs during February in Lamboya and Kodi and during March in Gaura and Wanukaka. The main activity starts several days after the full-moon and coincide with the yearly arrival to the shore of strange, and multihued sea worms – nyale. The precise date of the event decided by Rato during the wula podu (the month of pasola the fasting month). The Meaning And its Advantage
Pasola is derived from the world Sola or Hola meaning a kind of a long wooden stick used as a spear to fling each other by two opponent groups of horsemen. The horses used for this ritual are usually ridden by the brave and skilled selected men wearing traditional customes. In its wider and deeper meanings Pasola really not only is something worth looking on but also is something worth appreciating, for there are still other elements bound tightly behind it. The people of Sumba believe that the ritual has a very close link to the habit of the people since it arranges the behavior and the habit of the people so that the balanced condition between the physical – material needs and the mental-spiritual needs can be easily created; or in other words the ritual is believed to be able to crystallize the habit and the opinion of the people so that they can live happily both in earth and in heaven. In addition to it, Pasola is also believed to have close relation to the activity in agriculture field, therefore any bloodshed (of sacrificial cattle or men participating in the game) is considered the symbol of prosperity that must exist. Without blood Pasola means nothing to them. Those who die in the pasola arena are believed to have broken the law of tradition during the fasting month. Pasola that always takes risks, however, is accepted by the people in a very hospitable way and sportive. The Origin and It’s Legend
It is said that thousand of years ago there were three brothers-one of them named Umbu Dula coming from a village called Waiwuang (now Wanukaka) intended to collect rice in the Village of Masu Karera, in the south coast of East Sumba. They, however, lied to the villagers that they wanted to go fishing. After a long time they had not returned, the villagers become so worried that they might have been stranded, lost, or even dead, so the villagers went to search for them, but in vain. Being lonely for a long time, Umbu Dula’s wife, Rambu Kaba, fell in love with Tedo Gai Parana, a man from Kodi, and decided to marry him. When finally the three brothers came back to Waiwuang, all the villagers greeted them with mixed feelings. Despite tje joy caused by the arrival of the three brothers, Umbu Dula began to feel sad to hear that his wife had escaped to Kodi with Tedo Gai Parana and that they had decided to get married and lived a happy life. The three brothers and the villagers then began to run after Rambu Kaba and her partner and found them on the foot of a hill. Seeing Umbu Dula among the people of Waiwuang, Rambu Kaba burst out crying but she being too ashamed refused to return to Waiwuang.
The relatives of Tedo Gai Parana, therefore, had to pay the bride price (dowries) to Umbu Dula in the form of buffaloes, horses, a set of ornaments, some spears, and swords, and a unique giff of sea – worms, called Nyale. Nyale usually, appears in February and March (several days after the full-moon). After the bride price ceremony the people of Kodi invited the Waiwuang to have a game of Pasola as remembrance of the event, so that the sorrow caused by the escaped of Rambu Kaba could be forgotten. Since then the celebration of the time of nyale has been held with pasola games, and people connect the appearance of nyale with the harvest. The greater number of nyale appear, the more abundant harvest it will be. The pasola ceremony is usually preceded by several other rituals, done in fasting month Wula Nyale or Wula Podu such as self purification, Pajura (traditional boxing), the welcoming of nyale, which is done on the beach at dawn. These rituals are headed by ratos.
During the purification period there are a lot of prohibitions such as weeping for the died, striking gongs, wearing jingles ankles-bracellets, putting on bright dresses, killing animals, passing the pasola area, and crossing the river estuary. Affer the purification period the Pajura is held. Before the games starts the rato who leads the ritual makes an announcement of the game rules. After the announcement, to ratos throw their spears to start the game. This is immediately followed by hundreds of horse – riders racing their horses and while shouting throw their spears towards their opponents. Customarily, when someone is hurt the game will become more enthusiastic. After the games the participants return to their villages and are welcome as herois returning from the war. Then the thanksgiving ceremony is held by sacrificing castles no Marapu toask for fertile soil and bountiful harvest. This is pasola, a part of Sumbanese life; a life full of laughter and joy and hope for the bright future.
Sumba island has a great and unique position respect to the Sunda Banda archipelagoes, it is one of the biggest island on the East Nusa Tenggara region beside Flores and Timor. It represents an isolated sliver of probable continental crust to the south of active volcanic islands (Sumbawa, Flores ) within the forearc basin (Fig.1). It is situated to the north of passage from the Java Trench (subduction front) to the Timor Through (collision front). It does not show still the effects of strong compression in contrast to islands of the outer arc system (Savu, Roti, Timor), while the magmatic units make up a substantial part of the Late Cretaceous to Paleogene stratigraphy. Sumba island covers an area of 11,150 square km which is now populated by about 350,000 people. Generally the climate similar to other part of Indonesia where a dry season (May to November), and a rainy season (December to April). The island of Sumba is well known of its sandlewood, horses, impressive megalithic tombs, typical hand woven textile (“ikat”), and still untouched beautiful beaches. There are two entering point in to Sumba island from anywhere in the Lesser Waingapu & Waikabubak (Tambolaka). These are the people could enter
Sumba has a unique culture and their social life. Sumbanese are traditionally divided into three level of social life : (Raja/King) – Maramba, Customary Official – Kabihu, and Slaves – Ata. Sumbanese are living from farming, cattle breeding, rice-field farming and trading. Ones owns cattle will contribute to their social status such as if they had more cattle giving them a higher social status. Most Sumbanese are Christian (Catholic and Protestant), however, and part of them are still strongly keep their native and original religion called Marapu. Most cultural objects are related to the Marapu religion such as the shape of traditional houses, ceremonies, or kings’ graves and tombs. The Customary houses designed in high-peaked roof to store the heirlooms and store. It is divided into male and female section, and generally surrounded by impressive megalithic tombs. Their famous ceremony are the wedding and funerals. where they usually sacrificed animals pigs, buffaloes, cattle, and horses. The Megalithic tombs are made from the hard stone forming the megalithic shape. This covered by rectangle flat stone supported by four pillars about 1,5 meters high. The Megalithic tombs are actually located in the front of their houses A primitive Sumbanese art objects strongly related with a social functions of Merapu belief. The carved stones and wood statues are representing the death, Merapu, and as medium for their contact. Metal ornaments and jewelry are usually for wedding ceremonies, and are related to the social status Sumba Island has a unique position with respect to the Sunda-Banda arc as it represents an isolated sliver of probable continental crust to the south of active volcanic islands (Sumbawa, Flores ) within the forearc basin (Fig.1). It is situated to the north of passage from the Java Trench (subduction front) to the Timor Through (collision front). It does not show still the effects of strong compression in contrast to islands of the outer arc system (Savu, Roti, Timor), while the magmatic units make up a substantial part of the Late Cretaceous to Paleogene stratigraphy. Bathymetrically, Sumba stands out as a ridge that separates the Savu forearc basin (> 3000 m depth) in the east and the Lombok forearc basin (> 4000 m depth) in the west. Seismic refraction studies show (Barber et al., 1981) that it is made up of 24 km thick continental crust (Chamalaun et al., 1981). Based on the results of tectonic studies helped by paleomagnetism and geochemistry, several workers considered Sumba as a microcontinent or a continental fragment (Hamilton, 1979 ; Chamalaun and Sunata, 1982 ; Wensink, 1994, 1997 ; Vroon et al., 1996 ; Soeria-Atmadja et al., 1998 ).
Three main geodynamic models for Sumba have been reviewed by Chamalaun et al. (1982) and Wensink (1994) as follows : (i) Sumba was originally a part of the Australian Continent which was detached afterwards when the Wharton basin was formed, drifted northwards and subsequently trapped behind the eastern Java Trench (Audley-Charles, 1975 ; Otofuji et al., 1981), (ii) Sumba was once part of Sundaland which was drifted southwards during the opening of the Flores Basin (Hamilton,1979, Von der Borch et al., 1983 ; Rangin et al., 1990) and (iii) Sumba was either a microcontinent or part of a larger continent within the Tethys, which later was fragmented (Chamalaun and Sunata, 1982). Three distinct calc-alkaline magmatic episodes have been recorded during Cretaceous – Paleogene, all of them characterized by nearly similar rock assemblages (i.e pyroclastic rocks, basaltic – andesitic lava flows and granodioritic intrusions). They are respectively (i) the Santonian – Campanian episode (86-77 Ma) represented by volcanic and plutonic rock exposures in the Masu Complex from Eastern Sumba, (ii) the Maastrichtian-Thanetian episode (71-56 Ma) represented by the volcanic and plutonic units of Sendikari Bay, Tengairi Bay and the Tanadaro Complex in Central Sumba and finally (iii) the Lutetian – Rupelian episode (42-31 Ma) of which the products are exposed at Lamboya and Jawila in western part of Sumba. No evidence of Neogene magmatic activity has been recorded so far.
Jumat, 30 Juli 2010
Sumba
Sumba, formerly known as the Sandalwood Island, is known foe its horses and Sumba clothe. Sandalwood was the only known cure for many diseases until penicillin was invented. The Sumbanese traded with the Chinese until the 16th century, after which the Arabs became the most important trading partner until the early 20th century. The island is famous for its arts and handicrafts, particularly the textile "ikat" weaving. Sumba, however, is not for everyone. Neither the food nor accommodations are up to international standards. But if we are willing to make a little effort we can see an authentic, ancient culture with none of the layers of Hinduism or Islam mostly found elsewhere in the country.
The island has a small population and a dry tropical climate. In total Sumba have more hours of sunshine than any other place in Indonesia. The land resembles Southern Africa or Australia, with scattered small villages and herds of cattle and buffalo Sumba is off the beaten track. Transport system and roads are infrequently used. Most hotels in main towns are simple, only catering for the adventurous. However, CNN etc. are available for those wishing to stay in touch with the outside world. Beaches are long and clean. Water is clear and abundant in fish, and there is great surf.
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka Di mana matahari membusur api di atas sana Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga
Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput Kleneng genta, ringkik kuda dan teriakan gembala Berdirilah di pesisir, matahari ‘kan terbit dari laut Dan angin zat asam panas dikipas dari sana
Bari daku sepotong daging bakar, lenguh kerbau dan sapi di malam hari Beri daku sepucuk gitar, bossa nova dan 3 ekor kuda Beri daku cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari Bari daku tanah tanpa pagar,luas tak terkata, namanya Sumba
Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh Sementara langit bagai kain tenunan tangan, gelap coklat tua Dan bola api, merah padam, membenam di ufuk teduh
Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh Rinduku pada sumba adalah rindu seribu ekor kuda Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh
Pulau Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas wilayahnya 10.710 km², dan titik tertingginya Gunung Wanggameti (1.225 m). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di timur, dan Australia di selatan dan tenggara. Selat Sumba terletak di utara pulau ini. Di bagian timur terletak Laut Sawu serta Samudra Hindia terletak di sebelah selatan dan barat.
Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini sendiri terdiri dari empat kabupaten: Kabupaten Sumba Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Tengah, dan Kabupaten Sumba Timur. Kota terbesarnya adalah Waingapu, ibukota Kabupaten Sumba Timur. Kota tersebut juga terdapat bandar udara dan pelabuhan laut yang menghubungkan Pulau Sumba dengan pulau-pulau lainnya di Indonesia seperti Pulau Sumbawa, Pulau Flores, dan Pulau Timor.
Sebelum dikunjungi bangsa Eropa pada 1522, Sumba dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Sejak 1866, pulau ini dikuasai oleh Hindia-Belanda dan selanjutnya menjadi bagian dari Indonesia.
Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras Mongoloid dan Melanesoid. Sebagian besar penduduknya menganut kepercayaan animisme Marapu dan agama Kristen. Kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir.
1. Kabupaten Sumba Barat
Kabupaten Sumba Barat adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kotanya berada di Waikabubak. Luas daratannya 4.051,9 kilometer persegi.
kabupaten ini berupa rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur yang curam. Iklimnya tropis dengan musim hujan relatif pendek dibandingkan kemarau. Curah hujan rata-rata cukup tinggi, terutama pada November hingga Maret.
Penduduknya berjumlah sekitar ±300.000 jiwa. Sekitar setengah penduduk kabupaten ini masih memeluk agama tradisional marapu. Penduduk yang lain adalah pemeluk Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan sisanya adalah Budha. Kenyataan ini diakibatkan karena masih kuatnya pengaruh daripada adat istiadat mereka, terutama di kecamatan Kodi, Waijewa Barat dan Waijewa Timur yang hampir setengah penduduknya adalah pemeluk marapu. Selain itu, di kabupaten ini masih terdapat masyarakat terasing, yaitu suku bangsa Gaura di desa Gaura, kecamatan Walakaka, suku bangsa Balikeda di desa Dokakaka, kecamatan Loli dan suku bangsa Lenang di desa Lenang, kecamatan Katikutana.
Perekonomian Sebagian besar penduduk di kabupaten ini bergantung hidup pada sektor pertanian. Karena keadaan tanahnya, tanaman cokelat dan tembakau dapat tumbuh di areal seluas 110 hektar dan 2.280 hektar.
Sektor peternakan juga merupakan nafkah tambahan utama penduduk setempat. Kerbau banyak digunakan dalam pelaksanaan upacara adat, terdapat di kecamatan Kodi, Walakaka dan Katikutana. Selain itu, kerbau juga diguankan untuk menggarap tanah pertanian secara tradisional (renca).
Pariwisata Di daerah ini masih bisa ditemukan daerah-daerah yang memiliki nilai historis, baik dari segi sejarah maupun sosial budayanya. Kampung Kadung Tana, Watu Karagata dan Bulu Peka Mila merupakan daerah yang terdapat makam-makam megalitik. Juga di desa Tarung yang berjarak setengah kilometer dari kota Waikabubak, terdapat makam megalitik yang bercirikan tanduk kerbau dan taring-taring babi yang pada masa lalu merupakan hewan sakral.
Di kampung Matakaheri, desa Anakalang, terdapat makam Raja Anakalang seberat 70 ton. Konon, makam itu dikerjakan oleh 2.000 orang selama tiga tahun. Di kampung Lai Tarung yang terletak di atas gunung, terletak makam nenek moyang 12 klen. Di kecamatan Walakaka sering dilaksanakan acara perang tanding di atas kuda, atau pasola pada bulan Maret. Pasola adalah keterampilan menunggang kuda sambil melemparkan tombak kayu berujung tumpul yang di arahkan ke tubuh lawan. Sebelum upacara tersebut berlangsung, diadakan terlebih dahulu acara nyale, yaitu mencari sejenis cacing yang terdapat di antara batu-batu di tepi pantai. Anehnya, cacing-cacing tersebut hanya ada pada saat menjelang subuh kala purnama mulai muncul di bulan Maret. Cacing-cacing berprotein tinggi itu ditangkap untuk kemudian dimakan. Di daerah lain seperti Kodi dan Lamboya (termasuk kecamatan Walakaka) upacara pasola dan nyale biasanya diadakan pada bulan Februari. Dibagian selatan Sumba Barat, ada Pantai Rua yang berpasir putih. lokasi pantai berjarak sekitar 76 KM dari Waikabubak.
2. Kabupaten Sumba Timur Wilayah
Kabupaten ini menempati bagian timur Pulau Sumba. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Sumba, sebelah timur dengan Laut Sabu, sebelah selatan dengan Samudra Hindia, dan sebelah barat dengan Kabupaten Sumba Barat. Selain itu, kabupaten Sumba Timur juga meliputi empat pulau kecil di selatan, yakni Pulau Salura, Pulau Mengkudu, Pulau Kotak, dan Pulau Nusa.
Kondisi topografi Sumba Timur secara umum datar (di daerah pesisir), landai sampai bergelombang (wilayah dataran rendah <100>
Demografi
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa, atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli, juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Sebagian besar penduduk di kabupaten ini beragama Protestan. Selebihnya adalah Islam, Hindu dan Budha. Sekitar 39 persen lagi adalah beragama tradisional Marapu. Meskipun keadaan tanahnya kurang subur, lebih dari separuh penduduk kabupaten Sumba Timur ini adalah petani. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai peternak, pegawai, buruh, nelayan dan lain-lain. Walaupun sektor pertanian menempati tempat pertama dalam pendapatan regional, luas sawah yang bisa digarap baru 11 persen dari luas tanah kabupaten seluruhnya. Penggarapan sawah ini dilakukan dengan cara tradisional yang disebut renca, yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar diatas tanah sawah yang akan ditanami. Kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan ini digunakan sebagai pengganti bajak, dan pekerjaan renca ini diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Kehidupan sehari-hari penduduknya pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. Hal ini bisa dilihat saat mereka melaksanakan berbagai upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola), perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu).
Rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam yang menguasai wilayah bagian tengah dengan empat puncak: Mawunu, Kombapari, Watupatawang, dan Wanggameti. Dataran rendah terdapat di sepanjang pesisir dengan bagian yang cukup luas di Tanjung Undu (pesisir paling barat). Kabupaten ini beriklim tropis dengan musim hujan yang relatif pendek dan musim kemarau yang panjang (delapan bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius. Musim hujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai Maret untuk daerah pesisir dan November sampai April di daerah pedalaman. Jumlah curah hujan dalam setahun 1.860 milimeter, sehingga daerah ini termasuk daerah beriklim kering.
Amplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk, tanah merekah dan terjadi seleksi alam terhadap tumbuhan dan hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Karena itu, jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa, dan aren; sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau, dan kuda yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan alam Sumba yang berpadang sabana luas.
Keadaan tanah di Sumba Timur mengandung pasir, kapur, dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.
Perekonomian
Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun), serta pariwisata.
Kerajinan
Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada dua kelompok pengrajin, yaitu yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai, dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, yang menyebabkan harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda, dan Kampung Pau. Kerajinan tenun ini juga mendukung kegiatan pariwisata di kabupaten ini.
Pertanian tanaman
Pada sektor pertanian tanaman, padi, jagung, dan ubi kayu menjadi andalan. Hasil pertanian lainnya adalah cengkeh, kapuk, kemiri, kelapa, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, sorgum, dan jambu mete. Hasil pertanian tersebut telah dikembangkan sejak tahun 1977.
Peternakan
Sektor peternakan memiliki sejarah panjang dan cukup berbeda dari daerah lain di Indonesia, oleh sebab keadaan alam wilayah ini yang memiliki musim penghujan pendek dan padang rumput (sabana) luas.
Sumba Timur terkenal sebagai pusat penangkaran dan perdagangan kuda sejak abad ke-19. Kuda sandel, yang merupakan hasil perbaikan (grading up) kuda lokal dengan kuda Arab, telah menjadi maskot daerah dan figurnya dimasukkan dalam lambang daerah.
Pada awal abad ke-20 (1906-1907) pemerintah Hindia Belanda memasukkan empat ras sapi ke Sumba, sapi jawa, sapi madura, sapi bali, dan sapi ongole dari India. Hanya yang terakhir yang diketahui bisa beradaptasi dengan baik dan segera menjadi komoditi peternakan unggulan, menggeser kuda.[1] Tujuh tahun sejak introduksi, pemerintah menetapkan Sumba sebagai pusat penangkaran sapi ongole murni dan sejak itu biakannya dikenal sebagai ras SO (Sumba Ongole), dan ini berlangsung hingga sekarang.
Pariwisata
Pantai Kalala, Tarimbang, Purukaberta, dan Walakiri sudah mendunia dan dikenal sebagai tempat berselancar yang indah. Sisa-sisa kebudayaan megalitik berupa kubur batu dan rumah-rumah adat asli yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara adat penguburan jenazah bangsawan menarik minat para wisatawan. Wisata alam dapat dilakukan di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Sebenarnya ada tempat yang juga dapat dijadikan pariwisata yaitu londa lima dan pulo kambera, tapi kurangnya pengembangan pemda setempat mengurangi keindahan tempat tersebut.ini terbukti ramainya dua tempat tersebut pada waktu libur nasional maupun libur agama .
3. Sumba Barat Daya
Kabupaten Sumba Barat Daya adalah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, sebagai pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat, dan dibentuk berdasarkan UU no. 16 tahun 2007. Peresmian dilakukan oleh Penjabat Mendagri Widodo A.S. pada tanggal 22 Mei 2007.
DPR telah menyetujui Rancangan Undang-Undangnya pada 8 Desember 2006. Kabupaten Sumba Barat Daya adalah 1 dari 16 Kabupaten/Kota baru yang dimekarkan pada 2006. Ke-16 Kabupaten/Kota baru tersebut adalah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara, Kota Subulussalam, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Kayong Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Buton Utara, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Batubara, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Sumba Tengah dan Kota Kotamobagu.
Daftar Kecamatan
1. Kodi
2. Kodi Bangedo
3. Kodi Utara
4. Laura
5. Wewewa Barat
6. Wewewa Selatan
7. Wewewa Timur
8. Wewewa Utara
4. Kabupaten Sumba Tengah
Kabupaten Sumba Tengah adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia yang dibentuk berdasarkan UU no. 3 tahun 2007. Kabupaten ini adalah pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat.
Daftar Kecamatan
1. Katikutana
2. Mamboro
3. Umbu Ratu Nggay
4. Umbu Ratu Nggay Barat
=============================================
Sumba is an island in Indonesia, and is one of the Lesser Sunda Islands. It has an area of 11,153 km², and the population was officially at 611,422 in 2005. There is a dry season from May to November and a rainy season from December to April. Historically, this island exported sandalwood.
To the northwest of Sumba is Sumbawa, to the northeast, across the Sumba Strait (Selat Sumba), is Flores, to the east, across the Savu Sea, is Timor, and to the south, across part of the Indian Ocean, is Australia. It is in the province of East Nusa Tenggara. The largest town on the island is Waingapu, with a population of about 10,700.
Before colonization, Sumba was inhabited by several small ethnolinguistic groups, some of which may have had tributary relations to the Majapahit Empire. In 1522 the first ships from Europe arrived, and by 1866 Sumba belonged to the Dutch East Indies, although the island did not come under real Dutch administration until the twentieth century.
The Sumbanese people speak a variety of closely related Austronesian languages, and have a mixture of Malay and Melanesian ancestry. Twenty-five to thirty percent of the population practises the animist Marapu religion. The remainder are Christian, a majority being Dutch Calvinist, but a substantial minority being Roman Catholic. A small number of Sunni Muslims can be found along the coastal areas.
Despite the influx of western religions, Sumba is one of the few places in the world in which megalithic burials, are used as a ‘living tradition’ to inter prominent individuals when they die. Burial in megaliths is a practice that was used in many parts of the world during the Neolithic and Bronze Ages, but has survived to this day in Sumba.
Walaupun penduduk Sumba banyak mengandalkan penghasilannya dari bertani atau beternak, namun tenun adalah mata pencaharian utama lainnya. Tenun Ikat Sumba memang sudah menyatu dengan keseharian masyarakat Sumba. Umumnya para wanita mengerjakannya dan merupakan pekerjaan rumahan, yang dilakukan sambil mengobrol atau mengasuh anak.
Kerajinan kain tenun ikat ini telah terkenal sejak ratusan tahun. Nah, ternyata ada dua kelompok pengrajin. Yang pertama adalah yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang kedua melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat.
Beberapa daerah di Sumba Timur yang terkenal dengan kain tenunnya adalah desa Kaliuda, Kecamatan Pahungalodu, desa Rindi dan Watuhadang, kecamatan Rindiumalulu, desa Rambangaru di kecamatan Pandawai, dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Selain itu tidak jarang ada tenunan yang menghabiskan bertahun-tahun untuk menyelesaikannya, sehingga tidak heran bila harga jualnya bisa mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda, dan Kampung Pau.
Tenun ikat asal Kampung Rindi, di Kabupaten Sumba Timur, merupakan salah satu tenunan Sumba yang terkenal. Dengan penggunaan bahan-bahan alami yang berasal dari tetumbuhan, tenun ikat rindi memiliki kelabihan dalam hal motif, warna, dan bahan dasarnya. Semua itu diperoleh melalui sebuah proses yang rumit dan memakan waktu cukup lama.
Untuk proses pewarnaan saja bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Selain berkaitan dengan kebiasaan turun temurun, ini juga disesuaikan dengan tumbuhnya beberapa tamanan sebagai bahan pewarna, pada musim-musim tertentu. Seperti pada musim penghujan, para penenun mengikat benang, membentuk motif yang diinginkan sekaligus menyiapkan bahan warna. Misalnya warna merah dihasilkan dari akar mengkudu yang dicampur daun loba. Biasanya proses pencelupan warna dimulai pada musim kemarau. Karena bergantung pada bahan-bahan alami, pilihan warnanyapun terbatas. Warna biru, merah hitam dan kuning, merupakan warna yang biasa digunakan. Proses pewarnaannya relatif rumit dan memerlukan kesabaran. Paling tidak diperlukan empat kali pemrosesan untuk mendapat satu warna yang diinginkan, itupun masih harus diolah lagi dan dijemur satu bulan untuk warna lain. Setelah pewarnaan selesai, ikatan dibuka, benang diuraikan, barulah kemudian ditenun. Dengan berbagai tahapan tersebut, pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan. Harganyapun bisa mencapai jutaan rupiah, jauh lebih tinggi dari kain tenun yang menggunakan pewarna tekstil biasa. Motif tenun ikat dari Sumba Timur memiliki ciri yang amat khas dan jauh berbeda dari Sumba Barat. Bila pola motif Sumba Barat bergaris-garis, bunga dan lainnya yang terkesan lebih sederhana, maka tenun ikat Sumba Timur lebih dinamis dengan motif-motif berbentuk naga, singa, burung atau pohon andung. Kain Sumba Timur memang terkenal dengan keaneka ragaman motif ikatnya, sedangkan kain Sumba Barat kebanyakan hanya bermotif salur dengan sedikit variasi ikat, dan warnanyapun gelap. Sejalan dengan berkembangnya Sumba sebagai daerah tujuan wisata, tenun ikatnyapun menjadi satu komoditi yang menguntungkan. Sebagai cinderamata khas Sumba, para turis dari manca negara-pun tak segan-segan membelanjakan uangnya untuk membeli sehelai kain yang harganya relatif mahal ini.
Memahami proses pembuatan tenun ikat Sumba. Proses yang semula sarat dengan muatan religiusitas Marapu, tidak bisa dilepaskan dari peran para aktor kelas menengah komunitas suku bangsa Sumba. Dinamika pembuatan tenun ikat Sumba yang menggunakan teknik lusi, jika semula lebih sebagai aktifitas kultural yang berorientasi seni, terbatas, sarat dengan nilai-nilai religi Marapu kini harus berhadapan dengan arena modernitas bahkan era post modern.
Sosok orientasi penggunaan tenun ikat Sumba kini sudah mulai mengalami perluasan artikulasi yang bukan terbatas tetapi semakin meluas. Resiko perluasan pemaknaan ini dapat ditarik dengan berbagai orientasi, misalnya: untuk kepentingan komodifikasi yang sifatnya massal, digunakan untuk kepentingan kultural keseharian. Pemaknaan ini juga berarti bahwa jika semula tenun ikat Sumbahanya berlaku bagi kalangan elite, kini komunitas umum bisa mengakses kain tenun ikat ini. Tenun ikat Sumba telah lolos dari perangkap sejarah masa lalu dan kini telah mampu mendialogkan dengan realitas plural religiusitas bahkan ke wilayah profan.
Kajian Tenun Ikat Sumba Timur merupakan salah satu karya seni, yang pada era ini mengalami terpaan “badai globalisasi”, yang kalau tidak dipertahakankan dengan sungguh-sungguh akan punah. Usaha untuk melestarikan karya seni ini nampaknya terkait dengan aspek sosial pembangunan dari karya seni tersebut.